Jumat, 16 September 2016

Campa Tour goes to Banten: Sehari menjadi petani kerang dan menyelami sejarah Banten

Banten dalam kesan masa kecilku merupakan tempat gersang tempat truk-truk besar lalu-lalang dan pabrik-pabrik raksasa berdiri. Banten ialah jalan rusak menuju Anyer-Carita tempat dimana laut terdekat berada. Banten adalah kemacetan sepanjang jalur Anyer-Carita. Liburan ke Banten artinya liburan ke Anyer. Malah Anyer lebih familiar daripada Banten. Anyer adalah "laut terdekat dari Jakarta." Jika ingin ke laut, maka pergilah ke Anyer. Begitulah kira-kira masa kecilku membentuk kesan tentang Banten dan Anyer.

Namun seiring berkembangnya pariwisata daerah yang ditopang oleh arus informasi dan transportasi yang semakin mudah, maka Banten kini tidak hanya Anyer. Masih ada pantai Sawarna, pulau Tunda dan pulau Sangiang untuk wisata bahari. Taman nasional Ujung Kulon (TNUK) untuk wisata alam sekaligus bahari. Baduy untuk wisata budaya dan tentu saja kawasan Banten Lama yang sarat sejarah.

Khusus yang terakhir ini sebenarnya masih jauh tertinggal pengelolaannya sebagai tempat wisata dibandingkan dengan objek-objek lainnya. Masjid agung Banten malah lebih populer sebagai tempat ziarah alih-alih wisata. Makam sultan pertama dan kedua Banten berada dalam kompleks masjid agung. Keduanya ramai didatangi peziarah setiap hari. Setidaknya begitulah cerita pak Sudirman, pemandu kami yang asli Banten dari Campa Travel.

Oh iya, untuk perjalanan kali ini aku tidak mengatur semuanya sendiri tapi sudah diatur oleh Campa Tour & Travel sebagai trip organizer. Trip organizer lokal yang unik karena memfokuskan diri dalam trip sejarah-budaya yang menurutku masih belum banyak peminatnya di dalam negeri. Tapi disinilah keunggulannya, mereka kuat dalam narasi. Sepanjang perjalanan, pemandu lokalnya tidak henti bercerita tentang sejarah Banten. Silsilah kerajaan, raja-raja pertama, kontak dengan bangsa asing (yang nantinya menjajah Nusantara) diceritakan terus mengalir dan seolah tanpa henti. Kadang aku merasa kewalahan untuk menangkap informasinya karena saking banyaknya cerita.

Tur sejarah memang belum menjadi wisata favorit di kalangan pejalan dalam negeri. Pamornya kalah jauh jika dibandingkan dengan wisata alam maupun kuliner. Kalah ramai jika dibandingkan dengan snorkeling atau mendaki. Mungkin wisata sejarah terasa sulit. Kesan ini mungkin terbawa dari pelajaran sejarah di bangku sekolah. Jujur, aku pun tidak menyukai sejarah ketika masih sekolah. Karena dulu, sejarah ialah hafalan. Dan aku tidak pandai menghafal, jadi dulu aku tidak suka pelajaran sejarah.

Sejarah jadi menyebalkan ketika kita harus menghafalkan tahun. Sejarah juga belum tampak menyenangkan ketika kita harus mengingat nama. Namun sejarah jadi menarik ketika didongengkan. Area antara fakta dan imajinasi (kemampuan manusia dalam membayangkan sesuatu) dalam balutan cerita itulah yang menjadikan sejarah begitu mengesankan. Seperti membaca dongeng yang dulu pernah nyata. Mempelajari sejarah Nusantara juga berarti membangkitkan nasionalisme. Tidak heran dulu Bung Karno meneriakkan slogan JAS MERAH. JAngan Sekali-sekali MElupakan sejaRAH.

Nah tapi sebelum menelusuri sejarah Banten, kami lebih dulu menuju tempat petani kerang. Melihat dari dekat budidaya kerang hijau mulai dari memanen, menyortir, mengupas hingga siap jual. Tidak ketinggalan hidangan ala kerang hijau sebagai bagian dari menu santap siang. Wisata edukasi dan kuliner sekaligus, siip!

Melihat dari dekat pengolahan kerang hijau

Sehari menjadi petani kerang memang salah satu tajuk trip yang dijual Campa Tour sebagai bagian dari kerjasama dengan komunitas lokal. Terasa seperti wisata edukasi. Jenis wisata yang sangat jarang peminatnya di Indonesia kecuali untuk tur anak-anak sekolah. Namun tidak seperti wisata anak sekolah yang ramai dan penuh dengan penjelasan yang bersifat formalitas. Trip ini penuh dengan pertanyaan kepo dari para pesertanya. Trip yang membuka wawasan dan memenuhi keinginan untuk sekedar ingin tahu. Iya, "sekedar ingin tahu" karena pesertanya tidak punya kewajiban untuk menggali pengetahuan tentang ini. Tidak ada lembar kerja ala anak sekolah. Tidak ada laporan yang harus ditulis layaknya surveyor perusahaan. Murni ingin tahu dengan curiousity ala anak kecil.

Proses pengupasan kerang hijau

Perjalanan menelusuri budidaya kerang bermulai dari kunjungan ke rumah pengepul setempat. Setelah sedikit basa-basi dan cerita pengantar mengenai seluk-beluk budidaya kerang, kami berangkat dengan menumpang Sinar Banten. Kapal kayu milik pak Watna sang juragan kerang. Berangkat kemana? Sudah tentu melihat dari dekat tempat kerang-kerang tumbuh sebelum dipanen. Rencananya kami juga sekalian melihat proses panen kerang tersebut.

Campa tour membawa kami menelusuri tambak-tambak kerang untuk melihat proses panen dari dekat.

Oh iya, kerang yang kami maksud ialah kerang hijau (Perna viridis). Kerang ini banyak tersaji di warung-warung nasi ibukota. Disebut kerang hijau karena warna cangkangnya hijau sedangkan dagingnya berwarna orange kecokelatan. Kerang-kerang ini dipanen di bagan-bagan yang tersebar di pesisir. Setiap bagan ada penanggungjawabnya masing-masing. Berbagi jatah antar petani kerang.

Memanen kerang

Kerang ini tumbuh dengan menempel pada tambang-tambang yang dibentangkan dalam bagan-bagan bambu. Tambang yang telah ditempeli kerang-kerang tersebut kemudian diangkat ke atas kapal untuk dipanen. Proses memanen kerang ialah proses memisahkan kerang dengan tambang. Sesederhana itu. Namun untuk melakukan ini para petani kerang harus menggunakan sarung tangan yang cukup tebal karena bibir kerang cukup tajam untuk menggores kulit.

Hasil tangkapan

Setelah terkumpul cukup banyak, kami kembali ke rumah untuk membersihkan kerang dan mengupasnya. Kerang dibersihkan dengan cara menyemprotkan air lalu melepas benalu-benalu yang menempel pada cangkangnya. Setelah bersih, kerang itu direbus karena menurut para pengupas kerang, mustahil membuka cangkangnya jika belum direbus. Proses pembersihan dan pengupasan menyerap beberapa tenaga kerja yang berbeda dengan pemanen. Usaha ini tampaknya menyerap cukup banyak tenaga kerja dan bersifat padat karya karena semuanya serba manual.

Memisahkan kerang yang menempel di tambang
Disalurkan ke warung-warung nasi. Proses memanen hingga sampai pemasaran melibatkan banyak tenaga kerja.

Setelah itu tibalah waktu yang paling ditunggu: makan! Setumpukan besar kerang yang telah dikupas tersaji sebagai lauk santap siang kami. Ada juga tumpukan besar kerang yang lengkap dengan cangkang yang telah terbuka. Rasanya seperti makan kacang berkolesterol tinggi. Ditambah lauk khas pesisir seperti cumi dan ikan asin, makan siang kami terasa sangat nikmat! Masakan sederhana yang diolah dengan tangan terampil membuat cita rasanya akan terus diingat lidah-lidah kami.

Siap santap!
Menu lengkapnya. Sederhana nanun amat menggugah selera!


Sejarah Nusantara di Banten

Nah setelah perut kenyang, kini waktunya menelusuri Banten lama. Wisata sejarah menjadi segmen kedua dari perjalanan kali ini. Kebetulan letak situs-situs bersejarah di Banten berdekatan. Ada 4 situs yang akan kami kunjungi: istana Kaibon, keraton Surosowan, Masjid Agung Banten, dan benteng Speelwijk. Namun kecuali Masjid Agung Banten, ketiga situs lain sebenarnya sudah hancur lebur. Yang tersisa tinggal pondasinya saja dan beberapa tembok serta bekas gerbang istana.

Hal ini sangat disayangkan karena Banten memiliki posisi penting dalam masa lalu Nusantara. Posisinya di ujung barat pulau Jawa menjadikan pelabuhan Banten sangat ideal sebagai persinggahan menuju Maluku, pulau rempah-rempah maupun Asia Timur, menuju Cina negeri kain sutra. Dua komoditas yang paling dicari dunia barat pada abad pertengahan.

Menurut Giles Milton dalam bukunya Nathaniel Nutmeg (yang entah kenapa diterjemahkan jadi "Pulau Run"), Banten sempat menjadi bandar dan gudang penyimpanan rempah-rempah Inggris (EIC) sebelum diberangkatkan ke Eropa. Pada masa itu, Banten menjadi rebutan kekuasaan asing. Inggris, Portugis dan Belanda saling memperebutkan ijin sultan Banten untuk mendirikan gudang sementara untuk menyimpan rempah-rempah.

Perebutan ini menjadikan pelabuhan Banten (Karangantu) berkembang pesat. Inilah pelabuhan utama rempah-rempah di Jawa pada masanya. Usianya lebih tua daripada Batavia. Dulu, kapal-kapal besar bersandar disini untuk mengisi ulang perbekalan dan memperbaiki kerusakan setelah beberapa bulan mengarungi samudra. Dari Eropa ke Tanjung Harapan. Dari Afrika menuju Nusantara. Setelah Sumatra dan selat Malaka, Banten ialah tempat yang sangat strategis bagi kaum kolonial yang oportunis.

Meskipun awalnya koloniaal Inggris yang berhasil membuat kesepakatan dengan sultan, namun pada akhirnya kolonial Belanda melalui serikat dagangnya lah yang berkuasa lama atas Banten sekaligus Nusantara. Tapi mungkin (ini dugaan pribadi secara awam) Belanda sudah tidak terlalu tertarik dengan Banten setelah berhasil mendirikan Batavia. Mungkin ini sebabnya situs sejarah di Banten hanya tinggal pondasinya saja.

Tempat pertama yang kami kunjungi ialah istana Kaibon. Letaknya berada persis di jalan utama. Namun pintu masuk sebenarnya berada di depan sungai. Jadi istana ini sejatinya membelakangi jalan. Belakang disebut depan. Depan disangka belakang. Begitulah kesan istana ini pada awalnya.Pintu masuk "sebenarnya" berjumlah lima buah (jika tidak salah dengar, melambangkan lima rukun Islam) dan berada di depan tepian sungai. Sungai ini juga melewati keraton Surosowan, masjid Agung dan bermuara di samping benteng Spellwijk.

Mendengarkan penjelasan pak Dirman sambil berkeliling istana Kaibon

Tempat kedua yang kami kunjungi ialah masjid Agung Banten. Waktunya terasa pas karena selain sudah masuk waktu, tempat ini cocok untuk berteduh dari udara Banten yang siang itu terasa panas dan lembab. Tidak seperti situs bersejarah lainnya, masjid ini masih utuh. Menara masjid ini bahkan menjadi ikon Banten Lama. Sayangnya disini banyak terdapat scam. Tiap kotak sumbangan ada "penjaganya" yang sigap melantunkan ucapan terima kasih dengan lantang kepada setiap pengunjung yang datang. Padahal kami belum memasukkan sumbangan apa-apa ke dalam kotak-kotak tersebut. Dan kotak sumbangan itu tidak hanya satu, namun ada beberapa. Lengkap dengan penjaganya masing-masing. Tempat ini memang belum siap untuk menjadi tempat wisata.

Terlepas dari ketidaknyamanan itu, masjid ini sesungguhnya layak untuk dikunjungi. Interiornya terasa kuno namun sejuk. Mungkin disebabkan oleh ornamen kayu yang banyak digunakan sebagai interior ruang shalat utama. Pintu masuknya juga dibuat kecil, tujuannya agar umat masuk ke masjid dengan kepala menunduk, tanda merendahkan diri di hadapan Illahi. Bukan karena ukuran tubuh orang-orang Banten dulu yang kecil. Disini juga terdapat dua makam sultan Banten. Sultan pertama dan kedua. Dan makam-makam lainnya disekitar masjid.

Keberadaan makam inilah yang biasanya menjadi tujuan utama orang mengunjungi Banten. Makamnya banyak dan tidak pernah sepi. Banyak orang yang mengais rejeki dari kedatangan peziarah-peziarah ini. Mulai dari pedagang air, kembang, kantong plastik, sampai para "penunggu" kotak amal. Sisanya pedagang "biasa" yang menjual berbagai oleh-oleh khas Banten (meskipun menurutku barang-barang itu tidak khas).

Mejeng di depan menara masjid. Menara ini menjadi icon Banten Lama

Nah lepas dari masjid Agung, harusnya kami menelusuri keraton Surosowan. Namun karena udara Banten belum lagi bersahabat, maka kami memutuskan untuk mengunjungi museum situs kepurbakalaan saja dengan harapan bisa ngadem dalam ruangan berpendingin udara.

Museum situs kepurbakalaan Banten terletak diantara keraton dan masjid. Dari luar, bangunan ini tidak tampak menarik. Seperti gedung biasa bercat hijau. Setelah membeli karcis dan masuk, harapan kami berteduh diruangan berpendingin langsung menguap bersama panasnya udara Banten. AC memang ada dan menyala tapi sepertinya freonnya habis. Untungnya ada beberapa kipas angin yang menyala, tapi sebenarnya itu belum cukup untuk menurunkan suhu ruangan. Apalagi di dalam ruangannya dipajang juga koleksi dari tembikar yang mungkin akan rusak karena suhu yang tidak bersahabat. Kesan asal taruh, asal pajang sempat terasa ketika aku memasuki ruangan demi ruangan di museum ini. Yah, sepertinya museum-museum di Indonesia harus belajar banyak soal merawat koleksi, supaya tidak hanya bisa membangun tanpa bisa merawat.

Salah satu koleksi museum. Hanya sekedar ada.

Diluar suhu yang panas, museum ini cukup baik untuk memperkenalkan masa lalu Banten. Ceritanya sudah terbangun dari poster-wallpaper yang dipajang. Sayangnya ada beberapa poster yang resolusinya kecil sehingga tampak pecah ketika dicetak dalam ukuran besar. Selain itu, interaksi dengan pengunjung juga kurang, alat peraga tidak ada. Museum ini seolah hendak bercerita tanpa menghiraukan pendengar. Terasa sekali keberadaan museum hanya sekedar "kewajiban" tanpa ada gairah untuk mengembangkannya. Hadir tanpa semangat. Hanya sekedar ada. Masih lebih baik daripada tidak ada sama sekali namun sangat jauh dari semangat untuk mengenal sejarah.

Mendengarkan keterangan pak Dirman tentang masa lalu Banten

Museumnya sudah bisa bercerita. Wallpapernya bagus. Namun sayang resolusinya terlalu kecil

Seusai keluar dari kepengapan museum, perjalanan kami lanjutkan menuju benten Speelwijk. Harusnya sih begitu tapi ditengah cuaca yang panas & lembab, kami memutuskan untuk mengunjungi vihara avalokitasvera saja yang berada disebelahnya. Persis diseberang sungai yang hampir mati. Padahal sungai ini dulunya menjadi pintu masuk kesultanan Banten. Jalur lain setelah pelabuhan Karangantu.

Jika ditelusuri lebih lanjut, situs-situs di Banten ini selalu terhubung dengan sungai. Yah, dasar kota pelabuhan, sungai tampaknya menjadi jalur transportasi utama alih-alih jalan. Kesan kota pelabuhan yang baru terasa ketika kami menelusuri sejarahnya namun sama sekali tidak terasa jika hanya melihat fisik dan tata kota sekarang ini.

Pembangunan kota ini (dan kota-kota lain di Indonesia) lebih menitikberatkan pada transportasi darat. Banten dan Jakarta sudah bukan lagi kota pelabuhan. Orang-orangnya sudah berubah menjadi "orang darat" alih-alih "orang laut". Status sebagai negara kepulauan tidak akan terasa ketika kita menjejakkan kaki di kota-kota besar Nusantara. Kesan kepulauan baru terasa ketika kita melihat peta atau menelusuri propinsi kepulauan seperti Maluku atau Kepri.

Bangsa ini memang harus lebih banyak belajar dan menyadari pentingnya sejarah. Untuk mengetahui darimana kita berasal. Untuk memahami bagaimana kita terbentuk. Untuk menyadari identitas kita yang sebenarnya. Sehingga lebih percaya diri untuk menjalani masa kini. Tidak terombang-ambing pengaruh dari budaya luar. Dengan memahami diri sendiri, kita akan lebih mampu menyaring apa yang sesuai dan apa yang tidak. Kita akan menjadi lebih matang. Menjadi pemimpin, bukan sekedar pengikut apalagi pengagum bangsa lain. Karena kita jauh lebih keren daripada mereka. Salam!

--

Tulisan ini dibuat sebagai dukungan untuk Campa Tour & Travel. Travel organizer asli Indonesia yang memfokuskan diri pada wisata sejarah-budaya Nusantara. Meskipun pasarnya masih sangat terbatas, namun mereka masih bertahan dan berkembang untuk terus memperkenalkan jenis wisata ini kepada masyarakat. Semoga kedepannya dapat terus berkembang dan semakin banyak wisatawan-wisatawan domestik yang tertarik menjalani tur sejarah. Selamat menginspirasi, Campa Tour!

1 komentar:

  1. tulisan yang sangat inspiratif...terimakasih sudah bercerita tentang Campa

    BalasHapus